Kamis, 21 Januari 2016

MENELADANI SIKAP UMAR BN KHATTAB TERHADAP ISTRI


Khalifah Umar bin Khattab dianugerahi Allah SWT dengan ketegasan sekaligus hati yang lembut. Kisah rumah tangga Umar dapat menggambarkan betapa tinggi budi pekerti sang khalifah dalam menghormati istri.
Syahdan, diceritakan seorang laki-laki datang kepada Umar bin Khattab RA. Ia hendak mengadukan istrinya karena marah-marah kepadanya. Lelaki tersebut jengkel dan ingin mengadukan kelakuan istrinya kepada Amirul Mukminin.
Setiap kali datang ke rumah Amirul Mukminin, ia tidak pernah bertemu dengannya. Umar bin Khattab RA selalu telah pergi sebelum ia datang. Suatu ketika, laki-laki itu kemudian datang lagi ke rumah Umar bin Khattab RA. Sampai di depan rumah, ia tidak langsung mengetuk pintu. Umar justru berdiri di depan.
Lelaki itu pun tertegun sejenak. Secara tak sengaja, ia mendengar sang khalifah sedang dimarahi istrinya. Sang istri terdengar membesar-besarkan masalah yang remeh. Nada suara perempuan itu meninggi. Sang Amirul Mukminin cenderung pasif menghadapi kemarahan istrinya.
Lelaki itu kemudian berkata dalam hati, “Jika seorang Amirul Mukminin saja seperti itu, bagaimana denganku?” Ia kemudian berbalik hendak pergi. Umar bin Khattab keluar rumah dan melihat tamunya hendak pergi. Ia pun bertanya, “Apa keperluanmu?”
Laki-laki itu kemudian berbalik dan berkata, “Wahai, Amirul Mukminin, aku datang untuk mengadukan perangai buruk istriku dan sikapnya kepadaku. Tapi, aku mendengar hal yang sama pada istrimu,” kata lelaki itu.
Umar bin Khattab RA kemudian tersenyum. Dia pun mengisahkan kepada lelaki itu mengapa Umar yang keras begitu sabar menghadapi istrinya. “Wahai, saudaraku, aku tetap sabar menghadapi perbuatannya karena itu memang kewajibanku.”
Alih-alih menghardik istrinya, Umar malah menceritakan betapa besar jasa istrinya dalam kehidupannya di dunia. “Bagaimana aku bisa marah kepada istriku karena dialah yang mencuci bajuku, dialah yang memasak roti dan makananku, ia juga yang mengasuh anak-anakku, padahal semua itu bukanlah kewajibannya,” jawabnya.
Umar bin Khattab RA kemudian menasihati lelaki itu untuk bersikap sabar kepada istrinya karena istrinyalah yang membuat dia tenteram di sampingnya. “Karena istriku, aku merasa tenteram (untuk tidak berbuat dosa). Maka, aku harus mampu menahan diri terhadap perangainya.”
“Wahai, Amirul Mukminin, istriku juga demikian,” kata lelaki itu. Amirul Mukminin pun menjawab, “Maka, hendaknya engkau mampu menahan diri karena yakinlah hal tersebut hanya sebentar saja,” kata Amirul Mukminin.
*
Yaa Allah Yaa Tuhanku, jadikanlah Aku, Istriku/Suamiku, Anak Cucuku, dan Sahabat member SSS (Semangat Setiap Saat) orang-orang yang Pandai Bersyukur atas NikmatMU, Cepaat Bangkit Jika Gagal, Mempunyai Ilmu dan Mampu dan Mau Mengamalkannya, Menjadi Ahli Dzikrullah, Bisa Menjaga Hak ALLAH, Menjaga Shilaturrahim, Bisa Menjaga Waktu, tetap mendirikan sholat, gemar bersedekah, Istiqomah dalam Iman Islam, Pandai Menjaga Lisan dan Kemaluan.. Dan Matikanlah kami Yaa Allah, dalam keadaan Iman Islam dengan kondisi Khusnul Khotimah..
Ya Tuhan kami, perkenankanlah doa kami...
Aamiin Allahumma Aamiin..
*
Subhanallah..
Walhamdulillah..
Walaa Ilaaha illa Allah..
Wallahu Akbar..
Laahaula walaa Quwwata illa Billahil Aliyyi al-adziim..

Jadilah Empat Sifat Seperti Lebah


Inilah Empat Sifat Lebah yang Harus Ditiru Manusia
Lebah merupakan salah satu hewan istimewa karena tercantum di dalam
Alquran. Hewan yang termasuk dalam jenis serangga ini memproduksi madu yang berkhasiat untuk mengobati berbagai macam penyakit.
Lebah biasanya berkembang di pepohonan, bukit-bukit serta tempat-tempat yang dibuat oleh manusia. Binatang ini hanya bisa hidup di tempat-tempat tertentu yang bersih dan mengandung bahan madu atau nektar
Dalam sebuah riwayat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan manusia agar meniru sifat-sifat positif yang dimiliki oleh hewan bernama latin Anthophila tersebut. Lantas apa saja karakter lebah yang harus ditiru manusia? Berikut ulasannya.
Diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr bin As-Sahmi Al-Quraisy, Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Sesungguhnya perumpamaan seorang mukmin seperti lebah. Dia memakan yang baik dan mengeluarkan yang baik, hinggap namun tidak memecah dan merusak.” (HR. Ahmad)
Dari hadist Nabi Muhammad SAW di atas, dapat ditarik kesimpulan yang mengisyaratkan manusia agar meniru karakter lebah. Sifat-sifat tersebut merupakan wahyu Allah kepada lebah sejak awal penciptaanya.
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia.” (QS. An-Nahl : 68)
“Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.” (QS. An-Nahl : 69). Lantas apakah sifat lebah yang seharusnya ditiru manusia:
1. Hinggap di tempat yang bersih dan menyerap hanya yang bersih
Berbeda dengan lalat atau nyamuk yang bisa dengan mudah dijumpai di tempat-tempat kotor, maka lebah hanya hidup di tempat-tempat bersih yang mengandung nektar atau bahan madu. Misalnya bunga-bunga atau buah-buahan. Demikian juga seharusnya umat Islam, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. Al-Baqarah : 172)
2. Mengeluarkan yang Bersih
Hewan ini mengeluarkan madu, yang dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Produktivitas lebah adalah melakukan kebaikan, menghasilkan madu-madu tidak hanya untuk diriinya sendiri, namun juga mencukupi kebutuhan makhluk Allah lainnya. Bukankah hal itu juga seharusnya yang dilakukan oleh umat Islam. Yang seharusnya mampu mengeluarkan kebaikan yang dirasakan oleh manusia dan mahluk lainnya.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. (HR. Muslim/III/153 No. 2699)
3. Lebah tidak Merusak
Seperti yang dijelaskan Nabi dalam hadist bahwa lebah tidak merusak atau memecah tempat yang Ia jadikan sebagai rumah atau dihinggapi. Hewan ini begitu santun sehingga selalu menjaga lingkungan sekitarnya. Tat kala lebah menghisab nektar dari bunga atau buah, mereka pun tidak merusak. Hal inilah yang seharusnya dilakukan oleh manusia. Tetap santun ketika memanfaatkan sesuatu dan tidak hanya mementingkan diri sendiri, namun tetap menjaga kelestarian dan tidak berbuat kerusakan.
4. Keempat, tidak Pernah Melukai Kecuali Kalau Diganggu
Hewan ini juga tidak pernah memulai dululan untuk menyerang. lebah hanya akan menyerang jika merasa terganggu atau terancam. Bahkan setelah menyengat hewan ini akan mati dengan sendirinya. Pasalnya setelah menyengat, lebah tidak hanya meninggalkan sengatnya pada kulit kita, tetapi juga sebagian dari saluran pencernaan (digestive tract), otot dan syarafnya tercerabut dari tubuhnya. Kerusakan usus yang masif inilah yang menyebabkan lebah tersebut mati.
Lebah menyengat untuk mempertahankan diri dan kehormatan diri dan koloninya. Mereka juga rela jika harus mati jika ada yang coba-coba mengganggu diri serta koloninya terancam. Itulah yang sejatinya harus dimiliki seorang mukmin. Ketika ada umat Islam tersakiti, seharusnya pula kita merasa terluka dan berjuang membantu mereka.
Benar Allah tidak sia-sia menjadi lebah salah satu perumpamaan yang diabadikan dalam Alquran. Wallahu a’lam bis-Shawab

 

Subscribe to our Newsletter

Contact our Support

Email us: admin@gmail.com

Our Team Memebers